Ketika Pikiran Dianggap Terlarang: Bagaimana Psikologi Akhirnya Menemukan Kembali Kesadaran

 

Nama    : M Mujib

NIM      : 24616020

Kelas     : RPL 2/MC

MK       : History of psychology

1.     Jelaskan mengapa psikologi sempat meninggalkan pembahasan "pikiran" (era Behaviorisme) dan mengapa akhirnya kembali lagi ke pembahasan "proses mental" di era modern.

Jawab:

Pada awal abad ke-20, psikologi ingin diakui sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah, setara dengan fisika atau biologi. Masalahnya, pendekatan sebelumnya (introspeksi) dianggap bermasalah.

Alasan utamanya:

a.     Introspeksi dianggap tidak ilmiah

Pendekatan awal psikologi banyak mengandalkan laporan subjektif tentang pikiran dan perasaan (“apa yang kamu rasakan?”).
Masalahnya:

·       Tidak bisa diverifikasi orang lain

·       Hasilnya tidak konsisten

·       Sulit diulang (tidak replikatif)

Behavioris seperti John B. Watson menilai ini tidak memenuhi standar sains.

b.     Ingin fokus pada hal yang bisa diamati dan diukur

Behaviorisme menawarkan solusi radikal:Psikologi hanya mempelajari perilaku yangtampak (stimulus–respons), bukan pikiran.

Perilaku:

·       Bisa diamati

·       Bisa diukur

·       Bisa diuji di laboratorium

Tokoh seperti Watson dan B.F. Skinner percaya bahwa semua perilaku dapat dijelaskanmelalui pembiasaan, penguatan, dan hukuman, tanpa perlu membahas pikiran.

c.     Pikiran dianggap “black box”

Dalam behaviorisme:

·       Pikiran tidak ditolak keberadaannya

·       Tapi dianggap tidak perlu dibahas, karena tidak bisa diobservasi langsung

Yang penting:
Jika stimulus diketahui dan respons bisa diprediksi, maka penjelasan dianggap cukup.

Mengapa psikologi kembali membahas “proses mental” (Era Modern) karena sekitar pertengahan abad ke-20, pendekatan behaviorisme mulai dianggap terlalu sempit.

a.     Banyak fenomena tidak bisa dijelaskan hanya dengan perilaku

Contohnya:

·       Bahasa

·       Ingatan

·       Pemecahan masalah

·       Pengambilan keputusan

·       Kreativitas

Misalnya, Noam Chomsky mengkritik behaviorisme:
Bahasa tidak mungkin dipelajari hanya lewat penguatan, karena manusia bisa menghasilkan kalimat baru yang belum pernah diperkuat sebelumnya.

b.     Muncul Revolusi Kognitif

Psikologi mulai memandang manusia sebagai pemroses informasi, mirip komputer:

·       Input → proses mental → output (perilaku)

Proses mental seperti:

·       Persepsi

·       Atensi

·       Memori

·       Penalaran

dianggap bisa dipelajari secara ilmiah, meskipun tidak terlihat langsung.

c.     Perkembangan metode dan teknologi

Psikologi modern punya alat yang tidak dimiliki behavioris:

·       Eksperimen kognitif yang ketat

·       Neuropsikologi

·       Brain imaging (EEG, fMRI)

·       Model komputasional

Ini membuat proses mental:

·       Bisa diuji secara empiris

·       Tidak lagi sekadar spekulasi filosofis

d.     Integrasi dengan neuroscience dan evidence-based practice

Psikologi modern tidak kembali ke introspeksi murni, tetapi:

·       Menggabungkan perilaku, proses mental, dan aktivitas otak

·       Tetap berbasis data dan pengukuran

2.      Era Awal (Mentalisme): Sebutkan secara singkat upaya Wundt dan Titchener (seperti yang kita bahas sebelumnya) dalam mencoba membedah elemen kesadaran.

Jawab:

·       Wilhelm Wundt berupaya membedah kesadaran melalui eksperimen introspeksi terkontrol, dengan fokus pada pengalaman sadar langsung (sensasi, perasaan, dan persepsi) yang muncul saat individu merespons stimulus.

·       Edward B. Titchener mengembangkan pendekatan Wundt menjadi strukturalisme, dengan tujuan menguraikan kesadaran ke dalam elemen-elemen dasar seperti sensasi, citra, dan afeksi, melalui introspeksi yang sistematis dan rinci.

3.     Era Kegelapan Pikiran (Behaviorisme): Jelaskan masa di mana pikiran dianggap sebagai "Kotak Hitam" (Black Box) yang tidak boleh dipelajari karena dianggap tidak ilmiah.

Jawab:

Pada era behaviorisme, pikiran dianggap sebagai black box karena proses mental tidak dapat diamati dan diukur secara objektif, sehingga dinilai tidak ilmiah. Oleh karena itu, psikologi hanya mempelajari perilaku yang tampak melalui hubungan stimulus–respons, sementara pikiran dikesampingkan karena dianggap tidak perlu untuk menjelaskan perilaku.

4.      Titik Balik (Revolusi Kognitif): Bagaimana tokoh seperti Chomsky dan Miller"membuka kembali" kotak hitam tersebut, yang kemudian memungkinkan tokoh seperti Piaget menjelaskan perkembangan mental

Jawab:

Revolusi kognitif menandai kembalinya perhatian psikologi pada proses mental ketika Chomsky menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa tidak bisa dijelaskan hanya lewat hubungan stimulus–respons, tetapi melibatkan mekanisme kognitif internal. Temuan Miller tentang keterbatasan dan cara kerja memori memperlihatkan bahwa aktivitas mental dapat diteliti secara objektif. Pendekatan ini membuka kembali kajian tentang pikiran dan memberi landasan bagi Piaget untuk menjelaskan perkembangan kognitif anak sebagai proses aktif dan bertahap.

5.      Ekspansi (Psikologi Positif): Bagaimana setelah kita memahami cara kerja pikiran (Kognitif), psikologi mulai bertanya: "Bagaimana cara membuat pikiran ini tidak hany berfungsi, tapi juga berkembang optimal?"

Jawab:

Setelah psikologi kognitif berhasil menjelaskan bagaimana pikiran bekerja, fokus kajian kemudian meluas melalui psikologi positif dengan menanyakan bagaimana pikiran dapat berkembang secara optimal. Psikologi tidak lagi hanya berfokus pada gangguan atau disfungsi, tetapi juga meneliti kekuatan, kesejahteraan, makna hidup, dan potensi manusia, sehingga pikiran dipahami bukan sekadar alat untuk berfungsi, melainkan untuk tumbuh dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

6.      Jelaskan tentang tahap perkembangan kognitif dari Piaget?

Jawab:

 

Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif terjadi melalui tahap-tahap yang bersifat universal, berurutan, dan berkaitan dengan kematangan biologis serta interaksi dengan lingkungan. Anak dipandang sebagai pembelajar aktif yang membangun pengetahuannya sendiri.

Tahap Sensori-Motor (0–2 tahun)
Pada tahap ini, anak memahami lingkungan melalui aktivitas fisik dan pengalaman indrawi. Pengetahuan terbentuk dari apa yang dilihat, diraba, dan dilakukan. Di akhir tahap, anak mulai menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak sedang terlihat.

Tahap Praoperasional (2–7 tahun)
Anak mulai mampu menggunakan bahasa dan simbol untuk merepresentasikan objek. Namun, cara berpikirnya masih bersifat subjektif dan terpusat pada diri sendiri, sehingga belum mampu berpikir logis atau memahami sudut pandang orang lain secara utuh.

Tahap Operasional Konkret (7–11 tahun)
Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir logis, tetapi pemikirannya masih terikat pada hal-hal yang nyata. Anak mulai memahami konsep seperti jumlah, urutan, dan sebab-akibat selama berkaitan dengan objek atau pengalaman konkret.

Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas)
Individu mulai mampu berpikir abstrak dan sistematis. Penalaran tidak lagi bergantung pada objek nyata, melainkan pada ide, kemungkinan, dan hipotesis, termasuk dalam memahami konsep moral dan sosial yang kompleks.

7.     Bagaimana pemahaman kita tentang proses kognitif  (cara berpikir) membantu manusia mencapai kebahagiaan/kesejahteraan?

Jawab:

Pemahaman tentang proses kognitif membantu manusia mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan karena cara seseorang menafsirkan, menilai, dan memaknai pengalaman sangat menentukan kondisi emosional dan kualitas hidupnya. Pikiran tidak hanya memproses informasi, tetapi juga membentuk persepsi terhadap diri, orang lain, dan situasi.

Dengan memahami cara berpikir, individu dapat menyadari pola pikir yang tidak adaptif, seperti pikiran irasional atau negatif, lalu menggantinya dengan cara berpikir yang lebih realistis dan konstruktif. Hal ini membantu mengelola emosi, mengurangi stres, serta meningkatkan kemampuan menghadapi masalah.

Selain itu, pemahaman kognitif memungkinkan seseorang untuk mengembangkan kesadaran diri, tujuan hidup, dan makna, yang berkontribusi pada kepuasan hidup jangka panjang. Dalam konteks psikologi positif, cara berpikir yang fleksibel, optimis, dan berorientasi pada kekuatan diri membantu individu tidak hanya berfungsi secara normal, tetapi juga berkembang dan mencapai kesejahteraan psikologis.

8.     Mengapa kedua aliran ini dianggap sebagai respons penting terhadap dominasi Behaviorisme di masa lalu?

Jawab:

Kedua aliran ini dipandang sebagai respons penting terhadap dominasi behaviorisme karena pendekatan behavioristik terlalu menyederhanakan manusia dengan hanya memusatkan perhatian pada perilaku yang dapat diamati. Dalam behaviorisme, aspek internal seperti pikiran, perasaan, dan makna pengalaman dikesampingkan karena dianggap tidak ilmiah, padahal aspek-aspek tersebut memiliki peran besar dalam membentuk perilaku.

Psikologi kognitif muncul untuk menegaskan bahwa proses mental seperti persepsi, ingatan, dan penalaran dapat diteliti secara sistematis dan objektif melalui metode ilmiah. Dengan demikian, psikologi tidak lagi melihat manusia sebagai makhluk pasif yang hanya bereaksi terhadap stimulus, tetapi sebagai individu yang secara aktif mengolah informasi dan membuat keputusan.

Selanjutnya, psikologi positif memperluas kritik tersebut dengan menunjukkan bahwa psikologi tidak seharusnya hanya berfokus pada kontrol perilaku atau penanganan gangguan, tetapi juga pada kesejahteraan, kekuatan, dan potensi manusia. Aliran ini menekankan bahwa memahami pikiran manusia penting tidak hanya untuk menjelaskan perilaku, tetapi juga untuk membantu individu menjalani kehidupan yang bermakna dan berkembang secara optimal.

 

Referensi

Chomsky, N. (1959). Review of B. F. Skinner’s Verbal behavior. Language, 35(1), 26–58. https://doi.org/10.2307/411334

Miller, G. A. (1956). The magical number seven, plus or minus two: Some limits on our capacity for processing information. Psychological Review, 63(2), 81–97. https://doi.org/10.1037/h0043158

Piaget, J. (1952). The origins of intelligence in children. International Universities Press.

Seligman, M. E. P., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology: An introduction. American Psychologist, 55(1), 5–14. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.5

Watson, J. B. (1913). Psychology as the behaviorist views it. Psychological Review, 20(2), 158–177. https://doi.org/10.1037/h0074428

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

M Mujib_24616020_ Tugas_History_Psychology