M Mujib_24616020_ Tugas_History_Psychology
1. Apa perbedaan antara pandangan humanistik dengan eksistensialisme, jelaskan juga tokoh eksistemsialisme dan pandanganya?
Pendekatan humanistik memandang manusia sebagai individu yang pada dasarnya memiliki potensi positif dan dorongan alami untuk berkembang. Abraham Maslow menjelaskan bahwa perilaku manusia digerakkan oleh pemenuhan kebutuhan yang tersusun secara hierarkis, dengan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tertinggi. Sejalan dengan itu, Carl Rogers menekankan pentingnya konsep diri serta lingkungan yang memberikan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) agar individu dapat berkembang secara optimal. Dalam pandangan humanistik, permasalahan psikologis muncul ketika proses pengembangan diri terhambat atau kebutuhan psikologis individu tidak terpenuhi.
Sebaliknya, pendekatan eksistensialisme memandang manusia sebagai makhluk yang bebas dalam menentukan pilihan hidupnya, namun kebebasan tersebut selalu disertai dengan tanggung jawab. Viktor Frankl, melalui logoterapi, menyatakan bahwa dorongan utama manusia adalah pencarian makna hidup, bahkan dalam kondisi penderitaan. Menurut pandangan ini, masalah psikologis muncul ketika individu gagal menemukan makna hidup, menghindari tanggung jawab atas pilihannya, atau hidup secara tidak autentik.
Dengan demikian, perbedaan utama antara pandangan humanistik dan eksistensialisme terletak pada fokusnya. Humanistik menekankan potensi, pertumbuhan, dan aktualisasi diri, sedangkan eksistensialisme menekankan kebebasan memilih, tanggung jawab, serta pencarian makna hidup sebagai inti pengalaman manusia.
|
Aspek |
Humanistik |
Eksistensialisme |
|
Hakikat manusia |
Pada dasarnya baik |
Bebas, tapi penuh konflik |
|
Fokus |
Potensi & pertumbuhan |
Makna & pilihan hidup |
|
Masalah psikologis |
Hambatan aktualisasi diri |
Ketidakautentikan & penghindaran tanggung jawab |
|
Emosi utama |
Harapan, penerimaan |
Kecemasan, kesadaran eksistensial |
|
Tujuan hidup |
Aktualisasi diri |
Menemukan/menciptakan makna |
Tokoh Eksistensialisme dan Pandangannya
- Viktor Frankl
Viktor Frankl memandang bahwa motivasi utama manusia adalah mencari makna hidup. Melalui pendekatan logoterapi, Frankl menekankan bahwa manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih sikap terhadap penderitaan, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Menurutnya, gangguan psikologis muncul ketika individu kehilangan makna hidup atau merasa hidupnya tidak lagi bermakna. - Rollo May
Rollo May menekankan pentingnya kesadaran diri, kebebasan, dan tanggung jawab dalam kehidupan manusia. Ia melihat kecemasan eksistensial sebagai bagian normal dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus sepenuhnya dihindari. Bagi May, masalah psikologis terjadi ketika individu menghindari kecemasan tersebut dan hidup secara tidak autentik, sehingga kehilangan arah dan tujuan hidup. - Jean-Paul Sartre
Sartre berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang bebas sepenuhnya, dengan prinsip terkenal “existence precedes essence” (eksistensi mendahului esensi). Artinya, manusia tidak dilahirkan dengan jati diri atau makna yang sudah ditentukan, melainkan membentuk dirinya sendiri melalui pilihan dan tindakan. Menurut Sartre, individu bertanggung jawab penuh atas hidupnya, dan mengingkari tanggung jawab tersebut dapat menimbulkan konflik batin. - Martin Heidegger
Heidegger memandang manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya di dunia (Dasein). Ia menekankan pentingnya hidup secara autentik, yaitu hidup sesuai dengan kesadaran diri dan bukan sekadar mengikuti tuntutan sosial. Ketidakautentikan, menurut Heidegger, membuat manusia kehilangan makna hidup dan terasing dari dirinya sendiri.
Ringkasan Pandangan Eksistensialisme
Secara umum, aliran eksistensialisme memandang manusia sebagai makhluk yang bebas, sadar, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kecemasan, kesepian, dan kesadaran akan kematian dipandang sebagai bagian alami dari kehidupan manusia. Tujuan utama pendekatan ini bukan untuk menghilangkan penderitaan, melainkan membantu individu menemukan makna hidup dan hidup secara autentik.
2.Jelaskan pandangan psikologi Gestalt dan humanisme dalam konteks sumbangnya dalam psikologi
Psikologi Gestalt dan humanistik merupakan dua aliran dalam psikologi yang sama-sama memberikan sumbangan penting dalam memahami manusia, meskipun keduanya menekankan aspek yang berbeda. Keduanya hadir sebagai kritik terhadap pandangan psikologi yang terlalu menyederhanakan manusia, baik dengan memecah pengalaman menjadi unsur-unsur kecil maupun dengan melihat perilaku secara mekanis.
Psikologi Gestalt berpandangan bahwa pengalaman psikologis manusia harus dipahami sebagai suatu keseluruhan yang utuh. Manusia tidak memersepsi dunia sebagai potongan-potongan terpisah, melainkan sebagai pola yang terorganisasi dan bermakna. Tokoh-tokoh Gestalt seperti Max Wertheimer, Wolfgang Köhler, dan Kurt Koffka menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia secara alami mengelompokkan rangsangan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, seperti kedekatan, kesamaan, dan ketertutupan. Sumbangan utama Gestalt bagi dunia psikologi terletak pada perubahan cara pandang terhadap proses persepsi dan berpikir, yang kemudian menjadi dasar penting bagi perkembangan psikologi kognitif, studi pemecahan masalah, serta penerapannya dalam bidang pendidikan, seni, dan desain visual.
Sementara itu, psikologi humanistik menempatkan manusia sebagai individu yang memiliki kesadaran diri, kebebasan memilih, dan potensi untuk berkembang. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap psikoanalisis dan behaviorisme yang dianggap terlalu menekankan dorongan tidak sadar atau pengaruh lingkungan semata. Tokoh seperti Abraham Maslow menekankan bahwa manusia terdorong untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara bertahap hingga mencapai aktualisasi diri, sedangkan Carl Rogers menyoroti pentingnya penerimaan, empati, dan hubungan yang hangat dalam membantu individu memahami serta menerima dirinya sendiri. Sumbangan humanistik bagi psikologi sangat terasa dalam praktik konseling dan terapi, karena pendekatan ini mengedepankan hubungan yang setara dan menghargai pengalaman subjektif klien.
Secara keseluruhan, psikologi Gestalt memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan bagaimana manusia memersepsi dan memahami dunia secara menyeluruh, sedangkan psikologi humanistik memperkaya psikologi dengan pandangan yang lebih manusiawi, yaitu melihat individu sebagai pribadi yang bermakna, memiliki tujuan hidup, dan mampu berkembang. Kedua aliran ini membantu psikologi berkembang tidak hanya sebagai ilmu yang menjelaskan perilaku, tetapi juga sebagai disiplin yang memahami pengalaman manusia secara utuh.
oke, terimakasih.
BalasHapus